Terus terang penulis kurang begitu mengetahui apakah namanya rumah hantu, rumah iblis atau rumah setan. Namun yang pasti rumah itu mampu memindahkan ratusan anak, remaja, bahkan orang tua untuk mengunjunginya. Rumah yang terletak di pusat perbelanjaan elit dikota Baubau itu tidak seperti rumah-rumah biasanya. Dari desas-desus yang beredar, rumah itu dihuni suster ngesot, kuntilanak, genderuwo, dan mahluk astral lainya. Lucunya, suguhan bagi tamu bukan kalo-kalo, cucur, onde-onde, atau karasi seperti di rumah orang-orang buton kebanyakan. Tapi kengerian, penjebakan, jeritan, tangis dan ketakutan. Apesnya, suguhan itu tidak gratis alias bayar. Apa yah yang menarik dari rumah itu?. Kok bisa ratusan anak-anak buton yang sebagian besar pelajar lebih bersemangat dan antusias ke rumah hantu ketimbang berdiam diri di rumahnya apalagi ke sekolah? Mengapa anak-anak kita tidak betah dirumah?
Banyak hal yang menyebabkan anak tidak betah dirumah. Dari sisi internal, kondisi rumah sangat tidak nyaman bagi perkembangan mental apalagi spiritual anak. Rumah kita cenderung mirip sarang 7 manusia harimau. Tidak ada rasa cinta, sapaan hangat, saling menghargai dan menghormati. Semua berjalan hambar, tegang, kaku, individualis, dan tentunya penuh dengan adegan kekerasan. Laporan Komnas Perlindungan Anak mencatat ada 2.726 Kasus kekerasan anak terjadi disepanjang bulan januari – September 2014. Pelaku kekerasan pada anak di dominasi oleh orang terdekat korban mulai dari orang tua, keluarga dekat sampai guru-guru di sekolah.
Kasus angelica harusnya menjadi peringatan keras bagi para orang tua untuk lebih memperhatikan buah hatinya. Anak kita adalah anaknya manusia. Kalau hanya menyediakan sandang, pangan dan papan, apa bedanya dengan induk ayam? Investasi terbesar orang tua adalah waktu untuk anaknya. Karena susu sapi, gadget, playstation, sepatu roda atau barang suap sejenisnya tidak akan mampu menggantikan hangatnya cinta dan perhatian orang tua.
Dari sisi eksternal, lingkungan luar rumah begitu memikat dan siap menenggelamkan anak dengan pesonanya. Gambar, video dan bacaan porno sudah sebanyak jambu monyet di tanah buton ini, bahkan lebih. Candu porno bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Mulai dari komik, permainan, VCD, telepon selular, sosial media atau modus game online. Parahnya sebagian besar orang tua ternyata Gaptek alias gagap teknologi. Orang tua kurang mengetahui sepak terjang anaknya di dunia maya. Padahal adiksi pornografi lebih merusak otak dibanding narkoba. Dr Donald Hilton, seorang dokter ahli bedah syaraf AS mengatakan efek narkoba bisa merusak tiga bagian otak namun adiksi pornografi bisa merusak lima bagian otak sekaligus yaitu bagian lobus frontal, gyrus insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum. Kelima bagian otak itu sangat berperan dalam kontrol perilaku. Elly Risman mengingatkan bahwa kerusakan otak akibat pornografi seperti kerusakan pada mobil saat tabrakan keras. Ironisnya negara dengan mayoritas penduduknya ber KTP muslim adalah pengunggah situs porno terbesar di planet bumi. (Data Menkominfo 2013 & KPAI)
Masih dari sisi ekternal, pengaruh teman pergaulan secara tidak sadar memboyong anak kita pada bullying, Vandalisme, Seks Bebas, Prostitusi online, Narkoba, Rokok, atau geng motor. Semua berjalan senyap namun efeknya bagai bom waktu. Ketika syaratnya terpenuhi ledakannya membuat orang tua kalang kabut. Hasilnya, negera tercinta kita ini masih Kekeh di peringkat ketiga untuk jumlah perokok terbanyak (OkeZone.com,2014) serta juara dunia pertama untuk kasus aborsi (Data WHO dalam Medical-Journal, Soetjiningsih, 2004)
Apakah fenomena ini sepenuhnya kesalahan anak? Jawabannya tentu tidak. Fenomena ini terjadi diseluruh wilayah Indonesia. Atau inikah future shock yang di ramalkan oleh Alfin Tofler?. Ketidak mampuan suatu bangsa dalam menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat. Yang pasti ini bukan masalah kenakalan anak secara personal. Masyarakat harus menyadari bahwa ini adalah masalah sosial, jadi penangannya harus melibatkan gerakan sosial. Harus ada tinjauan ulang terhadap system pendidikan serta regulasi yang berhubungan dengan pemenuhan hak-hak anak. Bukankah undang-undang dasar (UUD) 1945, pasal 28 B ayat (2) menyatakan: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.
Lalu apa yang harus dilakukan orang tua untuk menghadapi gempuran globalisasi ini? Apakah kita harus memasung anak agar terbebas dari kontaminasi lingkungan?. Hal yang segera dilakukan adalah merebut kembali perhatian anak agar mau kembali kerumah. Para ahli hypnosis menyebutnya program autopilot. Setiap manusia pada dasarnya di kendalikan oleh alam bawah sadar atau program autopilot yang sudah terbentuk dalam dirinya. Jika program autopilot yang idealnya 80 persen dimiliki oleh orang tua dan guru sudah berpindah tangan ke lingkungan, maka dibutuhkan sinergitas yang intens antara orang tua dan guru.
Hal yang pertama dilakukan adalah program autopilot akan terinstal oleh referensi pertama yang diterima anak. Prinsip psikologisnya adalah siapa yang lebih dahulu mengajarkan atau menyampaikan maka semakin besar kemungkinan dia menjadikan referensi kebenaran dan direkam ke dalam program autopilotnya. Orang tua dan guru tidak boleh lelah dalam menerangkan bahaya pergaulan bebas, rokok, narkoba atau hal negative lainnya. Tentunya nasehat itu harus pula dilakukan dengan cara yang elegan. Orang tua dan guru harus pandai dalam memilih ucapan dan kata-kata halus yang positif. Hindari perkatan kasar apalagi caci maki. Ajarkan kisah-kisah moral dan nilai-nilai spiritual yang bisa menyejukan hati anak.
Kedua, seiring perjalanan usia anak, maka program autopilot akan meng-eject (menolak) peran dari pihak yang menipunya. Siapa yang dipercaya, itulah yang menjadi nilai kebenaran. Biasakanlah berkata jujur kepada anak. Semakin anak percaya kepada orang tua dan guru maka apa yang disampaikan akan segera diturutinya dan segera direkam untuk menjadi program autopilotnya.
Ketiga. Bersihkan program autopilot anak dari virus kekerasan. Jadikanlah rumah kita sebagai rumah po mamasiaka ; rumah cinta. Semakin menyenangkan cara orang tua dan guru mendidik, semakin besar kemungkinan untuk diuruti dan dijadikan sebagai bagian dari program autopilotnya.
Keempat, dibutuhkan konsistensi dalam meng-upgrade program autopilot. Ingatlah bahwa setiap hari anak bertemu dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sering kali anak kita lebih dulu menerima hal baru dari teman-temannya tanpa tahu akibat dan risikonya. Sejak saat itulah anak mulai berkenalan dengan rokok, narkoba, seks bebas dan hal negative lainnya. Buatlah jadwal quality time dalam keluarga. Tidak perlu kaku dan interogatif yang berlebihan. Quality time bisa dilakukan di pagi hari sambil sarapan atau setelah beribadah dimana gelombang otak dalam kondisi alfa. Bisa juga dijadikan agenda rutin dalam wisata keluarga. Intinya sebisa mungkin luangkan waktu untuk keluarga yang kita cintai.
Jalaluddin Rumi bernah bercerita tentang kerinduan seruling bambu untuk berkumpul bersama rumpun asalnya. Siapa saja yang terlempar dari asalnya pasti ia akan mencari jalan untuk kembali bergabung dengannya. Rumpun bambu itu adalah rumah kita. Tak peduli apakah rumah itu berdinding emas atau anyaman bambu. Istana raja atau gubuk derita. Rumah po mamasiaka akan selalu berbisik mesra “Datanglah seruling kecilku dimanapun kau berada, karena aku disni selalu menunggumu dalam naungan cinta”.
SUHARDIYANTO
(Founder Roemah Belajar Elfarooq Baubau & Taman Baca ‘Yingkita’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar